Archive for December, 2007

“Save Our Planet”, Lagunya SBY untuk UNFCCC

Sunday, December 2nd, 2007

   

   

   
      

Presiden
kita Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Negara Ani Yudhoyono pada acara
ramah tamah yang diselenggarakan hari jum’at kemarin di Istana negara
bersama para artis pendukung acara kesenian dalam rangkaian Konferensi
PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCC), ternyata juga menjadi ajang
perkenalan lagu terbaru Kepala Negara kita yang berjudul "Save Our
Planet" dengan mendaulat langsung Elfa`s Singer untuk menyanyikan lagu
tersebut.

Lagu tersebut dia khusus ciptakan untuk menyambut
UNFCCC (United Nations Framework Conference on Climate Change) yang
akan diselenggarakan di Bali, tanggal 3-14 Desember 2007 mendatang.
Lagu "Save Our Planet" (selamatkan planet kita) yang menggunakan bahasa
Inggris itu liriknya berisi ajakan untuk menyelamatkan bumi
bersama-sama demi kelangsungan seluruh umat manusia dari Bali.

"Salah
satu cara untuk membuat masyarakat sadar untuk cinta lingkungannya
harus melalui pendekatan soft power. Pendekatan soft power dapat
dilakukan melalui pendidikan dan pendekatan seni dan budaya. Pesan
dapat disampaikan melalui lagu, film, sinetron yang secara tidak
disadari mengubah perilaku masyarakat Indonesia," katanya. Baris
terakhir lirik lagu itu berbunyi, "Together we all gather in Bali, we
want to save our planet. We are all united here in Bali for better
life, for better world, for you and me".

SBY yang dijadwalkan
akan membuka pertemuan bersama dengan Sesjen PBB, Ban Ki Moon, pada 12
Desember 2007 nanti. dan kemudian akan melakukan "working lunch"
bersama Sesjen PBB dan pemimpin-pemimpin negara yang akan hadir dalam
konferensi di Bali. Para kepala negara yang direncanakan akan hadir
antara lain PM terpilih Australia, PM Papua Nugini, PM Norwegia,
Presiden Polandia dan Presiden Republik Maldives. Juga diharapkan
kedatangan Presiden World Bank serta tamu VIP dari Microsoft.

Semoga lagu tersebut dapat menjadi inspirasi kita semua untuk bisa dan terus menjaga lingkungan sekitar.

more on haMeedFinder Blog’s

Tips & Cara Memilih Jurusan Kuliah Di Perguruan Tinggi Yang Baik

Sunday, December 2nd, 2007

Pada umumnya siswa yang telah lulus dari SMA, SMEA, SMK dan jenjang sederajat lainnya akan melanjutkan studi ke Perguruan Tinggi baik Perguruan Tinggi Negeri / PTN maupun Perguruan Tinggi Swasta / PTS. Pada perguruan tinggi terdapat penjurusan mahasiswa berdasarkan subyek mata kuliah yang diambil. Setiap jurusan memiliki materi dan sifat pembelajaran yang berbeda-beda. Jurusan yang memiliki sifat yang serupa akan digabung dalam suatu fakultas, akademi, sekolah tinggi, dan lain sebagainya.

Memilih jurusan kuliah bukan urusan yang mudah dan bukan persoalan yang sepele. Banyak faktor yang harus diperhitungkan dan dipikirkan masak-masak. Memilih secara tergesa-gesa tanpa memperhitungkan segala aspek akan berakibat fatal mulai dari kesadaran yang terlambat bahwa jurusa yang diambil tidak sesuai dengan kepribadian sampai pada drop out / DO atau dikeluarkannya seorang mahasiswa / mahasiswi karena dinyatakan tidak mampu mengikuti pendidikan yang diikutinya. Maka dari itu pemilihan jurusan sedini mungkin harus mulai dipertimbangkan. Salah pilih jurusan merupakan bencana dan kerugian yang besar bagi anda di masa depan.

Cara milih jurusan di Perguruan Tinggi yang baik:
1. Menyesuaikan Cita-Cita, Minat dan Bakat
Bagi yang telah memiliki cita-cita tertentu, maka lihatlah jrurusan apa yang dapat membawa menuju profesi atau pekerjaan yang diinginkan tersebut. Janganlah memilih jurusan teknik geodesi jika anda ingin menjadi seorang dokter ahli kandungan dan jangan pula memilih jurusan sastra jawa jika bercita-cita menjadi polisi.

Sesuaikan jurusan yang ingin diambil dengan minat dan bakat. Jika tidak menyukai hitung-hitungan janganlah mengambil jurusan matematika dan jika tidak menyukai menggambar jangan mengambil jurusan teknik sipil. Kemudian lihat bakat anda saat ini. Mengembangkan bakat yang sudah ada disertai dengan rasa suka dan cita-cita pada suatu jurusan studi akan menjadi pilihan yang tepat.

2. Informasi yang Sempurna
Carilah informasi yang banyak sebagai bahan pertimbangan anda untuk memilih jurusan. Cari dan gali informasi dari banyak sumber seperti orang tua, saudara, guru, teman, bimbel, tetangga, konsultan pendidikan, kakak kelas, teman mahasiswa, profesional, dan lain sebagainya. Jangan mudah terpengaruh dengan orang lain yang kurang menguasai informasi atau ikut-ikutan teman / trend.

Internet juga merupakan media yang tepat dan bebas untuk bertanya kepada orang-orang di dalamnya tentang apa yang ingin kita ketahui. Cari situs forum atau chating melalui messenger dengan orang yang dapat dipercaya. Semua informasi yang didapat dirangkum dan dijadikan bahan untuk membantu memilih jurusan.

3. Lokasi dan Biaya
Bagi orang yang hidup dalam ekonomi atas, memilih jurusan tidak akan menjadi masalah. Biaya yang nantinya harus ditanggung dapat diselesaikan dengan mudah baik dari pengeluaran studi, biaya hidup, lokasi tempat tinggal, dan lain sebagainya. Bagi masyarakat golongan menengah ke bawah, lokasi dan biaya merupakan masalah yang sangat diperhitungkan.

Jika dana yang ada terbatas maka pilihlah lokasi kuliah yang dekat dengan tempat tinggal atau lokasi luar kota yang memiliki biaya hidup yang rendah. Pilih juga tempat kuliah yang biaya pendidikan tidak terlalu tinggi. Jika dana yang ada nanti belum mencukupi, maka carilah beasiswa, keringanan, pekerjaan paruh waktu / freelance atau sponsor untuk mencukupi kebutuhan dana anda. Jangan jadikan pula uang sebagai faktor yang sangat menghambat masa depan anda.

4. Daya Tampung Jurusan / Peluang Diterima
Perhatikan daya tampung suatu jurusan di PTN dan PTS favorit. Pada umumnya memiliki kuantitas yang terbatas dan diperebutkan oleh banyak orang. Jangan membebani diri anda dengan target untuk berkuliah di tempat tertentu dengan jurusan tertentu yang favorit. Anda bisa stres jika kehendak anda tidak terpenuhi. Buat banyak pilihan tempat kuliah beserta jurusannya.

Ukur kemampuan untuk melihat sejauh mana peluang menempati suatu jurusan di tempat favorit. Adanya seleksi masal yang murni seperti UMPTN, SPMB, Sipenmaru dan lain sebagainya dapat menjegal masa depan studi anda jika tidak persiapkan dan diperhitungkan matang-matang. Pelajari soal-soal seleksi dan ikuti ujian try out sebagai percobaan anda dalam mengukur kemampuan yang anda miliki.

Namun jangan terlalu minder dengan hasil yang didapat. Jika pada SPMB ada 2 jurusan yang dapat dipilih, pilih satu jurusan & tempat yang anda cita-citakan dan satu jurusan lain atau lokasi lain yang sesuai atau sedikit di bawah kemampuan anda.

5. Masa Depan Karir dan Pekerjaan

Lihatlah ke depan setelah anda lulus nanti. Apakah jurusan yang anda ambil nanti dapat mengantar anda untuk mendapatkan pekerjaan dan karir yang baik? Banyak jurusan-jurusan yang saat ini lulusannya menganggur tidak bekerja. Tidak hanya orang dari jurusan tertentu saja yang dapat bekerja pada suatu profesi, karena saat ini rekrutmen perusahaan dalam mencari tenaga kerja tidak melihat seseorang dari latar belakang pendidikan saja, namun juga pengalaman. Tetapi jika kompetensi, keberanian dan kemampuan anda jauh dari orang-orang normal, maka jurusan apapun yang anda ambil sah-sah saja.

Biarkanlah hati dan akal sehat anda bicara tanpa adanya campur tangan dari orang lain. Konsultasikan dengan orang tua dan orang lain yang anda percayai. Pemilihan jurusan kuliah sangat menentukan masa depan anda.

more on haMeedFinder Blog’s

Pesan dari Air

Sunday, December 2nd, 2007

DULU ada lagu dangdut yang dinyanyikan Rhoma Irama dan Elvy Sukaesih, yang bercerita mengenai air mancur di Binaria yang pandai berjoget ketika mendengar lagu dangdut. Lagu ini cukup usang, tapi sampai sekarang masih kerap terdengar. Yang belum pernah ke Binaria mungkin berpikir bahwa air mancur itu benar-benar bisa berjoget seperti manusia.

Tapi, yang sudah pernah ke sana segera tahu bahwa air mancur itu tidak benar-benar berjoget kecuali hanya bergerak-gerak mengikuti irama lagu saja. Saya tidak tahu, apakah ketika Bang Haji menciptakan lagu itu ia benar-benar berpikir bahwa air mancur bisa berjoget seperti manusia, atau ia hanya membuat personifikasi saja.

Tetapi, sebenarnya fenomena air yang bisa berjoget itu bukan khayalan, tetapi bisa terjadi betulan. Air memang benar-benar bisa berjoget atau bergerak-gerak dan berubah bentuk sesuai dengan irama lagu yang diperdengarkan kepadanya. Ini bisa dibuktikan melalui pembuktian laboratoriun yang ilmiah. Adalah Prof Masaru Emoto dari Jepang yang membuat eksperimen mencengangkan ini.

Ia berhasil membuktikan bahwa air bukan sekadar benda mati yang tidak bereaksi terhadap alam sekitarnya. Sebaliknya air hidup dan bereaksi terhadap apa yang terjadi kepadanya. Bahkan, air juga merespons sikap manusia terhadapnya.

Hasil penelitian Emoto menunjukkan bahwa air itu hidup sebagaimana manusia. Air bereaksi hampir sama seperti manusia. Air bisa ngambek kalau dimarahi. Air bisa senang ketika dipuji. Air bisa gembira ketika mendengar kata-kata yang indah, dan air bisa berantakan ketika ketakutan. Hasil penelitian ini dituangkan dalam buku Message from Water (Pesan dari Air) yang sekarang menjadi buku terlaris di dunia, dan sudah diterjemahkan kedalam berbagai bahasa termasuk Indonesia.

Dalam eksperimennya, Emoto mengambil air dari Waduk Fujiwara di Jepang yang kemudian dibawanya kepada Pendeta Kato Hoki dari Kuil Jyuhoin. Sang pendeta kemudian mengadakan upacara peribadatan selama satu jam dengan bermeditasi dan membaca doa-doa suci ajaran Shinto. Setelah satu jam, Prof Emoto kemudian membawa air itu ke laboratorium dan memotretnya dengan peralatan fotografi khusus. Hasilnya sungguh mengejutkan: Molekul air dari dam yang belum diberi doa-doa ternyata menunjukkan bentuk yang tidak beraturan dan cenderung kotor kehitam-hitaman.

Sementara air yang sudah diberi doa berwarna terang bersinar seperti kristal dengan bentuk segi lima ( hexagonal). Emoto sangat terkejut melihat hasil penelitiannya. Ia pun memberinya nama air heksagonal.

Dalam penelitian lanjutan, hasilnya ternyata lebih mengherankan lagi. Emoto mengambil segelas air lalu memperdengarkan lagu klasik karya Bach berjudul Goldberg Variation. Hasilnya, air itu mengeluarkan bentuk kristal indah dengan warna kebiru-biruan. Kemudian, Emoto mengambil air lain dan memperdengarkan lagu Heartbreak Hotel karya raja rock ën roll Elvis Presley. Hasilnya, air itu warnanya kehitam-hitaman dengan kristalnya menghilang berganti bentuk yang terpecahpecah. Emoto mencoba lagi Pesan dari Air mengambil air dan memperdengarkan lagu heavy metal.

Hasilnya? Mudah ditebak; bentuk air berantakan dan tidak ada lagi kristal, serta warnanya keruh. Saya tidak tahu bagaimana kalau eksperimen Emoto itu dilakukan di Indonesia, Segelas air diambil lalu diperdengarkan lagu Cucakrowo, atau lagu SMSnya Trio Macan, atau lagu Miss Call, atau lagu-lagunya Inul Daratista. Mungkin air itu bentuknya akan mbulet tidak keruan gara-gara keasyikan jogetngebor dan goyang ngecor.

Daya respons dan kepekaan air terhadap lingkungannya amat tinggi. Ketika pada segelas air ditempeli tulisan yang baik seperti terima kasih, bentuk kristalnya terlihat indah dan jelas. Demikian pula ketika mendengar kata-kata yang bagus atau diberi wewangian bunga, kristal-kristal indah dengan warna-warni cemerlang pun bermunculan.Sebaliknya, ketika diperdengarkan kata-kata kasar dan nada yang emosional, kristal-kristal itu langsung hancur berantakan dan keindahan warnanya langsung pudar.

Ketika air ditempeli nama Adolf Hitler warna dan bentuknya juga berubah. Bahkan ketika ditempeli kata Letís do it (ayo kita kerjakan) hasilnya air itu indah. Tapi ketika ditulisi Do it (Lakukan!) kristalnya langsung memudar.

Coba kita lakukan eksperimen di Surabaya. Kita ambil segelas air lalu kita pisuhi dengan pisuhan Suroboyoan. Mungkin air itu bukan hanya berantakan bentuknya, tapi bisa-bisa air itu meludahi kita karena ternyata air itu kita ambil dari Kali Wonokromo.

AIR terbukti hidup dan membawa kehidupan. Tubuh manusia ini 70 persen terdiri dari air. Manusia bisa bertahan hidup 81 hari tanpa makanan sama sekali. Tetapi, manusia akan mati dalam tempo lima hari tanpa minum. Mungkin hasil penelitian Prof Emoto bisa menjawab kondisi yang dialami bangsa Indonesia sekarang ini. Budayawan Abah Nun (Emha Ainun Nadjib) mengatakan bahwa bumi Indonesia ini sangat panas karena masyarakatnya tidak pernah berhenti gontokgontokan, dan pemimpinnya tidak bisa mengeluarkan katakata arif yang menyejukkan.

Barangkali itu juga yang menyebabkan kondisi kita tidak pernah berhenti dari penderitaan dan bencana. Kalau kita bersikap positif dan santun terhadap diri kita dan lingkungan, maka air di tubuh kita dan lingkungan sekitar akan mengeluarkan energi positif yang memberi kita ketentangan dan kebahagiaan. Kalau kita postif dan optimistis kepada diri kita sendiri, maka air dalam diri kita akan mengeluarkan energi positif dan aura yang selalu optimistis. Sebaliknya kalau kita muram dan mencurigai orang lain, air di tubuh kita akan mengalami imbas negatif dan sulit untuk produktif.

Kalau para pemimpin tidak bisa membuat pernyataan yang menyejukkan, dan selalu menunjukkan sikap saling curiga, jangan harap dari tanah air Indonesia akan muncul bungabunga kristal yang menyejukkan. Mungkin sekarang saatnya kita lebih sering lagi berpikir positif dan berkata-kata dengan penuh kasih sayang. Sekaranglah saatnya kita lebih banyak mendengarkan lagu-lagu yang inspiratif. Kurangilah mendengar lagu dangdut seperti Jatuh Bangun, Termiskin di Dunia, Mabuk dan Judi. Madon Bae..*

more on haMeedFinder Blog’s

PETUNJUK PENGAMATAN SATWA DI ALAM

Sunday, December 2nd, 2007

Sebelum melakukan pengamatan, terdapat beberapa hal yang perlu Anda perhatikan dan persiapkan, yaitu:

Pakaian
Untuk mengamati satwa hendaknya tidak mengenakan pakaian berwarna cerah dan mencolok, karena hal ini akan membuat satwa takut dengan kehadiran Anda. Gunakanlah pakaian berwarna redup, seperti coklat atau hijau. Yang paling penting untuk diperhatikan adalah pakaian yang dikenakan harus nyaman, menyerap keringat, berkerah, mudah kering bila basah dan memiliki kantung untuk menyimpan buku catatan saku. Sebaiknya Anda menggunakan pakaian berlengan panjang, supaya tidak terganggu oleh gigitan serangga atau tergores duri. Jangan lupa menggunakan topi lapangan dan membawa payung.

Perlengkapan Pengamatan
Perlengkapan untuk pengamatan terdiri dari teropong, buku pengenalan jenis satwa (field guide) dan buku catatan lapangan.

Teropong, merupakan alat utama yang harus tersedia dalam melakukan pengamatan satwa. Teropong berukuran 8×30 dan 8×40 adalah yang paling ideal untuk pengamatan di hutan. Jika kita hendak mengamati burung di tempat terbuka, menggunakan teropong berukuran 10×40 akan lebih baik. Sedangkan bila kita akan mengamati satwa di tempat terbuka, teropong satu lensa (monocular) akan lebih baik lagi.

Buku pengenalan jenis (field guide), diperlukan untuk membantu kita mengenali jenis satwa yang kita lihat denga benar. Sayangnya, saat ini belum ada buku pengenalan satwa yang mencakup seluruh Indonesia.

Buku catatan lapangan, harus selalu dibawa oleh pengamat selama melakukan pengamatan. Buku ini sebaiknya memiliki sampul yang tahan air, tidak mudah terlipat dan berukuran kecil supaya dapat disimpan di saku baju atau celana. Jika buku pengenalan jenis sedang tidak ada atau jenis satwa yang diamati tidak dapat ditemukan dalam buku pengenalan jenis yang dibawa, buku catatan lapangan ini akan sangat berguna.

Cara Menggunakan Teropong
Untuk melakukan pengamatan satwa, sebelumnya kita harus menguasai cara-cara menggunakan teropong dengan benar. Berikut ini adalah panduan cara menggunakan teropong:

  1. Carilah roda fokus dan penala okuler pada teropong.
  2. Tutup lensa obyektif (lensa besar) sebelah kanan dengan tangan dan putar roda fokus hingga obyek terlihat jelas dengan mata kiri.
  3. Tutup lensa obyektif sebelah kiri dan putar roda penala okuler hingga obyek terlihat jelas dengan mata kanan.
  4. Sekarang teropong Anda sudah ditala untuk kondisi mata Anda, jangan lagi memutar penala okuler.
  5. Jika hendak melihat obyek yang berbeda dengan teropong, gunakan roda fokus untuk memperjelas obyek.

Setelah bisa menggunakan teropong dengan baik, maka kita dapat memulai kegiatan pengamatan

Cara Mengamati Burung
Hal pertama yang harus diingat selama melakukan pengamatan burung adalah bahwa penglihatan dan pendengaran burung sangat peka. Burung akan segera terbang dan menghilang dari pandangan apabila merasa terganggu dengan kehadiran kita. Oleh karena itu perlu diperhatikan beberapa hal di bawah ini :

  • Jangan bersuara dan berjalanlah secara perlahan-lahan.
  • Jika memungkinkan, carilah tempat untuk persembunyian.
  • Gunakan pakaian dan topi dengan warna yang redup (tidak mencolok).
  • Amati burung sambil duduk, karena dengan duduk Anda akan dapat bertahan lebih lama mengamatinya.

Secara garis besar, teknis pencatatan hasil pengamatan burung di lapangan adalah sebagai berikut :

  • Catat tanggal, waktu dan lokasi pengamatan.
  • Gambarkan lokasi pengamatan (misalnya di perumahan, kebun, hutan, dan lain-lain).
  • Catat kondisi cuaca pada saat melakukan pengamatan.
  • Catat jenis-jenis burung yang dijumpai selama pengamatan. Pada kenyataannya, di lapangan seringkali kita menemukan jenis-jenis burung yang relatif sulit untuk dikenali (diidentifikasi). Untuk jenis-jenis seperti ini kita harus melihatnya dari jarak yang cukup dekat, supaya bisa menggambarkannya dengan jelas di buku catatan lapangan. Gambar dalam buku catatan lapangan sebaiknya meliputi bentuk dasar, warna bulu sayap, warna kepala, bentuk paruh, warna perut dan ukuran tubuhnya. Untuk menentukan ukuran sebaiknya menggunakan burung-burung yang telah Anda kenal sebagai acuannya, misalnya lebih besar dari burung gereja, tetapi lebih kecil dari burung jalak. Jangan sekali-kali mengandalkan ingatan semata, tetapi harus selalu dibiasakan untuk menggambarkannya di buku catatan lapangan.
  • Catat jumlah individu masing-masing jenis burung yang kita jumpai. Menghitung jumlah burung yang mengelompok seperti burung pantai, akan relatif sulit, terutama bagi pengamat pemula. Cara melatihnya adalah dengan mengamati sekelompok burung dan memperkirakan jumlahnya, kemudian hitung satu persatu. Adakah perbedaan antara jumlah sebenarnya dengan perkiraan kita?
  • Catat aktifitas dari burung yang sedang Anda amati, misalnya sedang makan, berkicau, menisik, dan lain-lain.
  • Catat interaksinya dengan lingkungan sekitar, misalnya sedang berkejaran dengan jenis burung lain atau sedang bertengger di atas kerbau, dan lain-lain.
  • Kompilasikan data pengamatan Anda dalam suatu buku / lembar catatan pengamatan.

Mengenal Satwa Primata di Alam
Di dunia terdapat 195 jenis primata, 40 jenis diantaranya hidup di Indonesia. Dari 40 jenis tersebut, 5 diantaranya hidup di hutan alami Pulau Jawa, yaitu :
Owa Jawa (Hylobates moloch), Surili (Presbytis comata), Lutung Jawa (Trachypitecus auratus), Kera ekor panjang (Macaca fascicularis) dan Kukang (Nycticebus coucang).

Primata atau jenis monyet merupakan hewan yang karena keunikannya banyak diteliti oleh para peniliti, baik dari manca negara maupun dari dalam negeri sendiri. Sejak dulu, satwa primata telah dieksploitasi oleh manusia untuk keperluan kehidupan manusia dan cenderung lebih bersifat negatif, seperti banyak dijadikan hewan percobaan dalam bidang medis, bahkan sering dijumpai sebagai satwa tontonan seperti sirkus dan sejenisnya.

Padahal, primata seharusnya tetap dilestarikan di alam, karena satwa ini banyak membantu manusia dalam menjaga kelestarian hutan, dan hutan merupakan sumber air, penjaga keseimbangan iklim, sumber bahan obat-obatan, sumber plasma nutfah, serta banyak lagi fungsi hutan lainnya yang bisa memberikan kelestarian bagi kehidupan manusia. Dan kegiatan pengamatan satwa primata akan memberikan keasyikan tersendiri apabila dilakukan di lingkungan tempatnya hidup, yaitu di hutan.

Cara Mengamati Primata di Alam
Siapkan alat-alat yang diperlukan untuk pengamatan, antara lain teropong, peta lokasi, kompas, altimeter, jam tangan, rain coat / payung, buku / lembar catatan, alat tulis, alat perekam seperti tape atau kamera, buku panduan lapangan tentang primata, pakaian dan tas lapangan yang memadai.

Lakukan pencarian / survey lokasi ke tempat-tempat primata biasa ditemukan. Setelah kelompok primata ditemukan, lakukan pengamatan dan catat data-data, seperti pohon tempat beraktivitas makan, istirahat, dan lain-lain. Hitung jumlah individu dalam kelompoknya. Coba untuk mengetahui jenis kelamin dan kehidupan sosialnya, seperti yang mana pimpinan kelompoknya, catat nama-nama bagian tumbuhan yang dimakan, dan lain-lain.

Dikutip dari buku “Panduan Singkat Pengamatan Satwa Liar”, yang dikeluarkan oleh KONUS (Konservasi Alam Nusantara).   more on haMeedFinder Blog’s

Tips-Tips Dalam Memilih Sepatu Untuk Berkegiatan di Alam Terbuka

Sunday, December 2nd, 2007

Sebelum kita memutuskan untuk membeli sepatu baru ada baiknya kita memperhatikan  tips-tips di bawah ini:


1. Pertimbangkan dengan Jenis Perjalanan yang akan Kita  Lakukan

Mulai dengan mencari sepatu boot atau sepatu trekking yang tepat  dengan melihat kategori / karakter medan yang paling cocok dengan rencana  perjalanan kita. Secara umum sepatu outdoor bisa dibagi dalam 3 kategori  dasar, yaitu :


a. Sepatu untuk pendakian ringan – Sepatu ini di desain untuk perjalanan sangat pendek seperti pendakian  sehari atau aktivitas semalam saja. Sepatu tersebut menitik beratkan pada  tingkat kenyamanan seperti penggunaan bantalan pelindung,dan bahan yang breathable (mempunyai kemampuan bernafas-mengeluarkan uap panas dari dalam  sepatu).


b. Sepatu untuk pendakian sedang
– Sepatu ini di desain untuk aktivitas pendakian dengan beban pendaki
yang ringan sampai cukup. Sepatu ini lebih tangguh dan bisa menyangga /
menahan beban yang dipikul dari pada sepatu ringan, sepatu ini cocok
untuk perjalanan yang pendek sampai sedang pada medan yang mudah sampai
cukup berat.

c. Sepatu untuk pendakian berat / sepatu khusus  Mountaineering
– Sepatu boot ini didesain untuk di medan berat dan dengan beban
pendaki yang sedang sampai berat. Bentuknya tinggi, bisa menyangga
kaki, dan bisa melindungi kaki dan pergelangan kaki. Sepatu ini
didesain bagi aktivitas berhari-hari / berminggu-minggu. Sepatu ini
sangat tangguh dan kaku bahkan beberapa diantaranya cocok untuk
penggunaan crampon (untuk sepatu  salju atau es), sehingga sepetu ini sangat melindungi dan menunjang untuk  aktivitas mountaineering.

2. Pertimbangkan Masalah Bahan
Bahan yang dipergunakan dalam pembuatan sepatu bIoot atau tIrekking akan  berpengaruh terhadap berat, kemampuan bernafas / breathability-nya,  kekuatannya serta ketahanannya terhadap air. Berdasarkan bahan yang dipakainya,  sepatu boot dibagi atas :

a. Sepatu dengan Bahan Nylon Mesh dan Potongan  Kulit
- Kelebihan sepatu jenis ini yaitu ringan sehingga bisa mengurangi
beban, cenderung empuk di kaki, cepat dalam membukanya, harganya
relatif lebih murah dan bisa bernafas (breathable),
menjadikannya cocok dipakai pada cuaca hangat sampai sedang, cepat
kering di kala basah dan cocok untuk perjalanan / pendakian pendek
sampai sedang. Tapi mempunyai kelemahan, diantaranya kurang stabil pada
medan yang miring, kurang tahan lama serta kebanyakan kurang tahan air
dibandingkan sepatu boot dengan bahan full  kulit (kecuali yang menggunakan lapisan waterproof).

b. Sepatu Kulit - Sepatu ini benar-benar tahan air,  tangguh dan lebih supportive dibanding sepatu campuran bahan kulit dan nylon.
Sepatu ini biasanya digunakan untuk perjalanan panjang / lama, beban
pendaki berat dan medan pendakian yang sulit / keras, dan paling
penting tahan lama. Tapi sepatu boot in tidak se-ringan dan se-breathable  campuran kulit / nylon, serta memerlukan waktu untuk membuka dan  memasangnya.

c. Sepatu Plastik
- Sepatu ini dipergunakan untuk medan es atau salju, dipakai untuk
kegiatan pendakian / ekspedisi ke gunung-gunung bersalju atau es.
Bentuknya sangat kaku / rigid, sangat layak untuk penggunaan crampon
(alas bergerigi yang dipasang di sepatu), terdiri dari dua lapis yaitu
lapisan dalam sebagai penghangat dan bagian luar sebagai pelindung,

Seiring perkembangan teknologi, beberapa sepatu boot baik dari bahan  campuran kulit / kain atau full
kulit sekarang banyak yang tahan terhadap air sehingga kaki tetap
kering saat hujan turun, ini terjadi berkat penggunaan / perlakuan
lapisan tahan air seperti Gore-tex, Sympatex Dry-tex, Outdry, dll.
Perlakuan ini diaplikasikan pada kebanyakan material sepatu boot untuk  mempertinggi tingkat ketahanan airnya..

Walau demikian lapisan ini bukan merupakan obat mujarab bagi sepatu boot,
karena umurnya tidak tahan lama dan perlakuan ini berpengaruh terhadap
harga serta bisa membuat kaki menjadi tidak nyaman jika dipakai di
udara panas. Tingkat ketahanan air ini tergantung dari jenis bahan yang
digunakan, bahan-bahan pelindungnya, seberapa sering dipakainya dan
sebaik apa perawatannya. Jika perawatannya benar maka lapisan tahan
airnya bisa bertahan lebih lama dari pada umur sepatu itu sendiri. Oleh
sebab itu pastikan selalu mengikuti aturan perawatan yang biasanya
terdapat pada setiap kemasan sepatu, sehingga sepatu kita bisa tahan
lama dan berfungsi dengan baik.

3. Pertimbangkan Cara Pembuatannya
Secara umum sepatu boot dibuat dengan cara mekanisasi / pabrikasi dan  manual / hand made. Teknik pembuatannya dilakukan dengan cara dijahit dan  direkatkan (di-lem atau di-press).
Sepatu yang dibuat dengan teknik penjahitan performanya tangguh dan
bisa diandalkan, jika telah usang / rusak solnya bisa diganti. Dengan
teknik ini sepatu yang dihasilkan akan berbeda dalam hal kekuatan dan
kekakuan masing-masing produsen mempunyai kiat-kiat khusus, seperti
gaya Norwegia, gaya Italy, dsb. Sedangkan sepatu yang dibuat dengan
proses perekatan / pengeleman, biasanya pembuatannya lebih cepat,
hasilnya lebih tangguh, umumnya lebih murah.

4. Pertimbangan Saat Mencobanya
Setelah
kita memilih berbagai ukuran dan modelnya, cara terbaik untuk
memutuskan mana yang akan kita pilih adalah dengan mencoba sepatu
tersebut. Saat mencoba sepatu, jangan mengandalkan ukuran sol sepatu
yang umum atau berpatokan pada nomor yang biasa kita pakai. Sebab
sepatu no. 8 buatan pabrik / merk yang satu mungkin berbeda dan memang
biasanya berbeda dibandingkan buatan pabrik/merk yang lain. Jadi yang
terbaik adalah mencobanya.

(Rudy Firdaus - Eiger Adventure Training & Education, dan berbagai sumber)

more on haMeedFinder Blog’s

Perlengkapan Pendaki Gunung

Sunday, December 2nd, 2007

PERLENGKAPAN PRIBADI

  1. Sepatu,
    ada beberapa tipe sepatu yang dirancang khusus untuk berbagai jenis
    perjalanan. Sepatu yang baik adalah yang dapat memberikan perlindungan
    bagi kaki dan cocok untuk jenis perjalanan.
  2. Pakaian,
    harus dapat melindungi si pemakai dari gangguan medan dan cuaca.
    Meliputi pakaian untuk kepala, badan, tangan dan kaki.
  3. Perlengkapan tambahan, meliputi bekal makanan / minuman, senter, pisau, perlengkapan menginap / tidur, dll.

PERLENGKAPAN TEKNIK
1. Tali (Rope)
Tali
yang dipergunakan dalam pendakian / pemanjatan tebing (climbing rope)
bersifat fleksible, elastis dan tahan terhadap beban yang berat.
Diameter tali berkisar antara 11, 10 dan 9 mm. Kemampuan menahan beban
berkisar antara 1.360 s/d 2.720 kg. Yang biasa digunakan ada dua jenis
yaitu : Hawser laid dan Kernmantel.

2. Helmet / Crash Hat
Berfungsi sebagai pelindung kepala terhadap benturan benda keras.

3. Harness
Tali tubuh yang  berfungsi sebagai sabuk pengaman.

4. Carabineer 
Carabineer
adalah cincin kait yang berbentuk oval atau D dan mempunyai gate /
pintu, terbuat dari allumunium alloy dan mempunyai kekuatan antara
1.500 – 3.500 kg. Carabineer ini ada dua jenis, yaitu : screw gate
(berkunci) dan snape gate (tidak berkunci).

   
5. Sling
Sling
terbuat dari webbing tubular. Panjang sekitar 1,5 m dengan lebar 2,5 cm
dibentuk menjadi sebuah loop (lingkaran) yang dihubungkan dengan simpul
pita.

PERENCANAAN PERLENGKAPAN PERJALANAN
Keberhasilan
suatu kegiatan di alam terbuka juga ditentukan oleh perencanaan dan
perbekalan yang tepat. Dalam merencanakan perlengkapan perjalanan
terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, diantaranya adalah :

  1. Mengenal jenis medan yang akan dihadapi (hutan, rawa, tebing, dll)
  2. Menentukan tujuan perjalanan (penjelajahan, latihan, penelitian, SAR, dll)
  3. Mengetahui lamanya perjalanan (misalnya 3 hari, seminggu, sebulan, dsb)
  4. Mengetahui keterbatasan kemampuan fisik untuk membawa beban
  5. Memperhatikan hal-hal khusus (misalnya : obat-obatan tertentu)

Setelah
mengetahui hal-hal tersebut, maka kita dapat menyiapkan perlengkapan
dan perbekalan yang sesuai dan selengkap mungkin, tetapi beratnya tidak
melebihi sepertiga berat badan (sekitar 15-20 kg), walaupun ada yang
mempunyai kemampuan mengangkat beban sampai 30 kg.

Dari kegiatan penjelajahan, ada beberapa jenis perjalanan yang disesuaikan dengan medannya, yaitu :

  1. Perjalanan pendakian gunung
  2. Perjalanan menempuh rimba
  3. Perjalanan penyusuran sungai, pantai dan rawa
  4. Perjalanan penelusuran gua
  5. Perjalanan pelayaran

Untuk
perjalanan ilmiah dan kemanusiaan, bisa pula dikelompokkan berdasarkan
jenis medan yang dihadapi. Dari setiap kegiatan tersebut, kita dapat
mengelompokkan perlengkapannya sebagai berikut :

1. Perlengkapan dasar, meliputi :

  • Perlengkapan dalam perjalanan / pergerakkan 
  • Perlengkapan untuk istirahat
  • Perlengkapan makan dan minum
  • Perlengkapan mandi
  • Perlengkapan pribadi

2. Perlengkapan khusus, disesuaikan dengan perjalananan, misalnya

  • Perlengkapan penelitian (kamera, buku, dll)
  • Perlengkapan penyusuran sungai (perahu, dayung, pelampung, dll)
  • Perlengkapan pendakian tebing batu (carabineer, tali, chock, dll)
  • Perlengkapan penelusuran gua (helm, headlamp/senter, harness, sepatu karet, dll)

3. Perlengkapan tambahan 
Perlengkapan ini dapat dibawa atau tergantung evaluasi yang dilakukan (misalnya : semir, kelambu, gaiter, dll).

Mengingat
pentingnya penyusunan perlengkapan dalam suatu perjalanan, maka sebelum
memulai kegiatan, sebaiknya dibuatkan check-list terlebih dahulu.
Perlengkapan dikelompokkan menurut jenisnya, lalu periksa lagi mana
yang perlu dibawa dan tidak.

Apabila perjalanan kita lakukan dengan
berkelompok, maka check-list nya untuk perlengkapan regu dan pribadi.
Dalam perjalanan besar dan memerlukan waktu yang lama, kita perlu
menentukan perlengkapan dan perbekalan mana saja yang dibawa dari rumah
atau titik keberangktan, dan perlengkapan atau perbekalan mana saja
yang bisa dibeli di lokasi terdekat dengan tujuan perjalanan kita.

(Sumber : Buku Panduan Pedoman Mendaki Gunung & Penjelajahan Rimba/EAT&E – EAST 2003) more on haMeedFinder Blog’s

Perjalanan / Pendakian Gunung

Sunday, December 2nd, 2007

Mendaki
gunung adalah suatu olah raga keras, penuh petualangan dan membutuhkan
keterampilan, kecerdasan, kekuatan serta daya juang yang tinggi. Bahaya
dan tantangan merupakan daya tarik dari kegiatan ini. Pada hakekatnya
bahaya dan tantangan tersebut adalah untuk menguji kemampuan diri dan
untuk bisa menyatu dengan alam. Keberhasilan suatu pendakian yang
sukar, berarti keunggulan terhadap rasa takut dan kemenangan terhadap
perjuangan melawan diri sendiri.

Di
Indonesia, kegiatan mendaki gunung mulai dikenal sejak tahun 1964
ketika pendaki Indonesia dan Jepang melakukan suatu ekspedisi gabungan
dan berhasil mencapai puncak Soekarno di pegunungan Jayawijaya, Irian
Jaya (sekarang Papua). Mereka adalah Soedarto dan Soegirin dari
Indonesia, serta Fred Atabe dari Jepang. Pada tahun yang sama,
perkumpulan-perkumpulan pendaki gunung mulai lahir, dimulai dengan
berdirinya perhimpunan penempuh rimba dan pendaki gunung WANADRI di
Bandung dan Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI)
di Jakarta, diikuti kemudian oleh perkumpulan-perkumpulan lainnya di
berbagai kota di Indonesia.

JENIS PERJALANAN / PENDAKIAN
Mountaineering
dalam arti luas adalah suatu perjalanan, mulai dari hill walking sampai
dengan ekspedisi pendakian ke puncak-puncak yang tinggi dan sulit
dengan memakan waktu yang lama, bahkan sampai berbulan-bulan.

Menurut kegiatan dan jenis medan yang dihadapi, mountaineering terbagi menjadi tiga bagian :

1. Hill Walking / Fell Walking

Perjalanan mendaki bukit-bukit yang relatif landai dan yang tidak atau
belum membutuhkan peralatan-peralatan khusus yang bersifat teknis.

2. Scrambling
Pendakian
pada tebing-tebing batu yang tidak begitu terjal atau relatif landai,
kadang-kadang menggunakan tangan untuk keseimbangan. Bagi pemula
biasanya dipasang tali untuk pengaman jalur di lintasan.

3. Climbing
Kegiatan
pendakian yang membutuhkan penguasaan teknik khusus. Peralatan teknis
diperlukan sebagai pengaman. Climbing umumnya tidak memakan waktu lebih
dari satu hari.

Bentuk kegiatan climbing ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu :
a. Rock Climbing
  Pendakian pada tebing-tebing batu yang membutuhkan teknik pemanjatan dengan menggunakan peralatan khusus.
b. Snow & Ice climbing
  Pendakian pada es dan salju.

4.  Mountaineering
Merupakan
gabungan dari semua bentuk pendakian di atas. Waktunya bisa
berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Disamping harus
menguasai teknik pendakian dan pengetahuan tentang peralatan pendakian,
juga harus menguasai manajemen perjalanan, pengaturan makanan,
komunikasi, strategi pendakian, dll.

KLASIFIKASI PENDAKIAN

Tingkat kesulitan yang dimiliki setiap orang berbeda-beda, tergantung
dari pengembangan teknik-teknik terbaru. Mereka yang sering berlatih
akan memiliki tingkat kesulitan / grade yang lebih baik dibandingkan
dengan mereka yang baru berlatih.

Klasifikasi pendakian berdasarkan tingkat kesulitan medan yang dihadapi (berdasarkan Sierra Club) :
Kelas 1 :  berjalan tegak, tidak diperlukan perlengkapan kaki khusus (walking).

Kelas 2 : medan agak sulit, sehingga perlengkapan kaki yang memadai dan
penggunaan tangan sebagai pembantu keseimbangan sangat dibutuhkan
(scrambling).

Kelas 3 : medan
semakin sulit, sehingga dibutuhkan teknik pendakian tertentu, tetapi
tali pengaman belum diperlukan (climbing).

Kelas 4 : kesulitan bertambah, dibutuhkan tali pengaman dan piton untuk anchor/penambat (exposed climbing).
Kelas
5 : rute yang dilalui sulit, namun peralatan (tali, sling, piton dll),
masih berfungsi sebagai alat pengaman (difficult free climbing).

Kelas
6 : tebing tidak lagi memberikan pegangan, celah rongga atau gaya geser
yang diperlukan untuk memanjat. Pendakian sepenuhnya bergantung pada
peralatan (aid climbing).

SISTEM PENDAKIAN
1.
Himalayan System, adalah sistem pendakian yang digunakan untuk
perjalanan pendakian panjang, memakan waktu berminggu-minggu. Sistem
ini berkembang pada pendakian ke puncak-puncak di pegunungan Himalaya.
Kerjasama kelompok dalam sistem ini terbagi dalam beberapa tempat
peristirahatan (misalnya : base camp, flying camp, dll). Walaupun hanya
satu anggota tim yang berhasil mencapai puncak, sedangkan anggota tim
lainnya hanya sampai di tengah perjalanan, pendakian ini bisa dikatakan
berhasil.

2. Alpine System,
adalah sistem pendakian yang berkembang di pegunungan Alpen. Tujuannya
agar semua pendaki mencapai puncak bersama-sama. Sistem ini lebih
cepat, karena pendaki tidak perlu kembali ke base camp, perjalanan
dilakukan secara bersama-sama dengan cara terus naik dan membuka flying
camp sampai ke puncak.

PERSIAPAN BAGI SEORANG PENDAKI GUNUNG
Untuk menjadi seorang pendaki gunung yang baik diperlukan beberapa persyaratan antara lain:

1. Sifat mental.
Seorang
pendaki gunung harus tabah dalam menghadapi berbagai kesulitan dan
tantangan di alam terbuka. Tidak mudah putus asa dan berani, dalam arti
kata sanggup menghadapi tantangan dan mengatasinya secara bijaksana dan
juga berani mengakui keterbatasan kemampuan yang dimiliki.

2. Pengetahuan dan keterampilan
Meliputi pengetahuan tentang medan, cuaca, teknik-teknik pendakian pengetahuan tentang alat pendakian dan sebagainya.

3. Kondisi fisik yang memadai
Mendaki
gunung termasuk olah raga yang berat, sehingga memerlukan kondisi fisik
yang baik. Berhasil tidaknya suatu pendakian tergantung pada kekuatan
fisik. Untuk itu agar kondisi fisik tetap baik dan siap, kita harus
selalu berlatih.

4. Etika
Harus
kita sadari sepenuhnya bahwa seorang pendaki gunung adalah bagian dari
masyarakat yang memiliki kaidah-kaidah dan hukum-hukum yang berlaku
yang harus kita pegang dengan teguh. Mendaki gunung tanpa memikirkan
keselamatan diri bukanlah sikap yang terpuji, selain itu kita juga
harus menghargai sikap dan pendapat masyarakat tentang kegiatan mendaki
gunung yang selama ini kita lakukan.

(Sumber : Buku Panduan Pedoman Mendaki Gunung & Penjelajahan Rimba/EAT&E – EAST 2003) more on haMeedFinder Blog’s

QUO VADIS MAPALA

Sunday, December 2nd, 2007

MAPALA
singkatan dari Mahasiswa Pecinta Alam. Terkadang ada juga yang
mengartikan Mahasiwa Paling Lama kuliahnya (mahasiswa abadi). Mereka
juga di identikkan dengan orang-orang yang beraliran “sayap kiri” yang
super cuek, sulit di atur berpakaian seenaknya serta suka
mabuk-mabukkan.
   

Opini dimasyarakat yang menyebutkan bahwa sosok dari pecinta alam tersebut terkadang terkesan selalu “negatif”. Kesan negatif tersebut timbul mungkin bisa

Karena
penampilan dari mereka yang menamakan dirinya pecinta alam itu sendiri
yang sering kelihatan lusuh, kumal, berambut gondrong, seadanya
(meskipun tidak semuanya pecinta alam berpenampilan seperti ini).
   

Mungkin juga karena orang sering melihat kegiatan pecinta alam berkesan hura-hura, dan atau tidak mau tahu dengan lingkungan sekitarnya, bisa

 

Pula


karena kegiatan pecinta alam dianggap sebagai kegiatan yang mubazir dan
buang-buang waktu, tenaga, serta uang hanya untuk menyalurkan hobby
menantang maut, minat dan bakat tanpa mempunyai arti dan tujuan yang
nyata (meskipun hal ini tidak semuanya benar). Meskipun demikian, tidak
sedikit kelompok atau organisasi pecinta alam yang melakukan kegiatan
positif seperti ikut dalam operasi SAR, membantu masyarakat terasing, atau konservasi alam.

 

Terlepas dari semua itu, kehadiran mahasiswa pecinta alam tidak terlepas dari sejarah dunia kemahasiswaan di

Indonesia

,
dimana pada dekade tahun 70-an aktivitas mahasiswa yang berorientasi
pada politik praktis semakin dibatasi. Disamping itu pula terdapat rasa
kejenuhan dengan kondisi politik pada masa itu hal ini menciptakan situasi dan kondisi aktivitas mahasiswa “lesu darah”.

 

Kondisi
itu semakin bertambah dengan dikeluarkannya SK No. 028/3/1978 tentang
pembekuan total kegiatan Dewan Mahasiswa (DEMA) dan Senat Mahasiswa
(SEMA) di seluruh Perguruan Tinggi di Indonesia yang kemudian
melahirkan konsep Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK).

 

Dengan
kondisi yang demikian, kemudian melahirkan ide untuk membentuk suatu
wadah baru dalam bentuk kegiatan lain yang diperuntukkan bagi mahasiswa
yang mempunyai hobby dan minat yang sama, yaitu sama-sama menyukai
kegiatan di alam bebas seperti pendakian gunung, memanjat tebing,
menelusuri lorong-lorong kegelapan di dalam gua, arung jeram, dan lain
sebagainya.

 

Yang tidak kalah pentingnya pada
perkembangan selanjutnya adalah aktivitas kepecintaalaman juga diwarnai
oleh sikap keberpihakkan kepada alam serta lingkungan hidupnya,
sehingga organisasi/kelompok pecinta alam yang tumbuh di lingkungan
Perguruan Tinggi tidak hanya berkegiatan alam bebas
melulu, akan tetapi kegiatan lingkungan hidup juga mendapatkan porsi
yang seimbang dengan kegiatan petualangan di alam bebas.

 

Dimulai
oleh Mapala UI, organisasi/kelompok pecinta alam tersebut tumbuh dan
berkembang subur dalam lingkungan Perguruan Tinggi di negeri ini, baik
ditingkat universitas maupun dilingkungan fakultas.

 

Pecinta
alam kalau diartikan yaitu berasal dari kata cinta dan alam. Cinta
mengandung arti menyukai, menyayangi, dan mengagumi. Alam mengandung
arti segala yang ada di sekitar, baik berupa benda mati ataupun benda
hidup. Sehingga dari kata cinta menjadi pecinta yang menunjuk kepada
subyek yaitu orang.

 

Tapi,
sampai sekarang belum ada definisi yang pas dengan apa itu pecinta
alam. Sebab kata pecinta alam itu mengandung pengertian yang sangat
luas. Hal ini selalu menjadi perdebatan yang hangat dalam setiap
pertemuan tahunan secara nasional dalam Temu Wicara dan Kenal Medan
(TWKM) Mahasiswa Pecinta Alam Se-Indonesia atau pada Gladian Nasional
yang diadakan 2 (dua) tahun sekali. Sehingga forum tersebut juga tidak
bisa merumuskan pengertian dari istilah Pecinta Alam dan diserahkan
kembali kepada organisasi/kelompok masing-masing bagaimana
“menginterpretasikan” istilah tersebut.

 

Meskipun
sampai sekarang belum ada yang bisa merumuskan istilah Pecinta Alam,
namun dilihat dari kegiatannya bisa dibedakan dalam beberapa kelompok
yakni : Kelompok pertama adalah mereka yang hanya menggeluti kegiatan alam bebas dengan misi untuk menyalurkan hobby dan minat bertualang di alam bebas. Kegiatannya meliputi pendakian gunung, pemanjatan tebing dan penelusura gua. Kedua, kelompok
yang selain melakukan kegiatan petualangan, juga melakukan kegiatan
yang berorientasi pada penyelamatan lingkungan hidup, sehingga pada
perkembangannya kegiatan kepencintaalaman menjadi semakin luas
.
Selain bertualang mereka juga melakukan konservasi alam, pengamatan
sosial-ekonomi-budaya masyarakat, hingga operasi SAR. Kelompok inilah
yang paling banyak dilakukan oleh organisasi/ kelompok Mahasiswa
pecinta alam.

Banyak
sudah korban yang “berguguran” dalam kegiatan “menantang maut” namun
penuh “cinta kasih” ini, demikian juga dharma bakti mereka pada tanah
tercinta ini dalam hal konservasi alam (meski tidak tercatat dalam buku
sejarah) namun trade marknya sebagai kelompok sayap kiri sulit
dihapuskan. Baik buruknya kegiatan yang hanya bisa digeluti oleh
orang-orang yang mempunyai nyali ini tergantung dari sudut mana orang
memandangnya. Dan hanya orang-orang ariflah yang bisa memahami mereka.

more on haMeedFinder Blog’s

Cara Belajar yang Baik Untuk Ujian / Ulangan

Sunday, December 2nd, 2007

   

   

   
      

Belajar
merupakan hal yang wajib dilakukan oleh para pelajar dan mahasiswa.
Belajar pada umumnya dilakukan di sekolah ketika jam pelajaran
berlangsung dibimbing oleh Bapak atau Ibu Guru. Belajar yang baik juga
dilakukan di rumah baik dengan maupun tanpa pr / pekerjaan rumah.
Belajar yang dilakukan secara terburu-buru akibat dikejar-kejar waktu
memiliki dampak yang tidak baik.

Berikut ini adalah tips dan
triks yang dapat menjadi masukan berharga dalam mempersiapkan diri
dalam menghadapi ulangan atau ujian :

1. Belajar Kelompok
Belajar
kelompok dapat menjadi kegiatan belajar menjadi lebih menyenangkan
karena ditemani oleh teman dan berada di rumah sendiri sehingga dapat
lebih santai. Namun sebaiknya tetap didampingi oleh orang dewasa
seperti kakak, paman, bibi atau orang tua agar belajar tidak berubah
menjadi bermain. Belajar kelompok ada baiknya mengajak teman yang
pandai dan rajin belajar agar yang tidak pandai jadi ketularan pintar.
Dalam belajar kelompok kegiatannya adalah membahas pelajaran yang belum
dipahami oleh semua atau sebagian kelompok belajar baik yang sudah
dijelaskan guru maupun belum dijelaskan guru.

2. Rajin Membuat Catatan Intisari Pelajaran
Bagian-bagian
penting dari pelajaran sebaiknya dibuat catatan di kertas atau buku
kecil yang dapat dibawa kemana-mana sehingga dapat dibaca di mana pun
kita berada. Namun catatan tersebut jangan dijadikan media mencontek
karena dapat merugikan kita sendiri.

3. Membuat Perencanaan Yang Baik
Untuk
mencapai suatu tujuan biasanya diiringi oleh rencana yang baik. Oleh
karena itu ada baiknya kita membuat rencana belajar dan rencana
pencapaian nilai untuk mengetahui apakah kegiatan belajar yang kita
lakukan telah maksimal atau perlu ditingkatkan. Sesuaikan target
pencapaian dengan kemampuan yang kita miliki. Jangan menargetkan yang
yang nomor satu jika saat ini kita masih di luar 10 besar di kelas.
Buat rencana belajar yang diprioritaskan pada mata pelajaran yang
lemah. Buatlah jadwal belajar yang baik.

4. Disiplin Dalam Belajar
Apabila
kita telah membuat jadwal belajar maka harus dijalankan dengan baik.
Contohnya seperti belajar tepat waktu dan serius tidak sambil main-main
dengan konsentrasi penuh. Jika waktu makan, mandi, ibadah, dan
sebagainya telah tiba maka jangan ditunda-tunda lagi. Lanjutkan belajar
setelah melakukan kegiatan tersebut jika waktu belajar belum usai.
Bermain dengan teman atau game dapat merusak konsentrasi belajar.
Sebaiknya kegiatan bermain juga dijadwalkan dengan waktu yang cukup
panjang namun tidak melelahkan jika dilakukan sebelum waktu belajar.
Jika bermain video game sebaiknya pilih game yang mendidik dan tidak
menimbulkan rasa penasaran yang tinggi ataupun rasa kekesalan yang
tinggi jika kalah.

5. Menjadi Aktif Bertanya dan Ditanya
Jika
ada hal yang belum jelas, maka tanyakan kepada guru, teman atau orang
tua. Jika kita bertanya biasanya kita akan ingat jawabannya. Jika
bertanya, bertanyalah secukupnya dan jangan bersifat menguji orang yang
kita tanya. Tawarkanlah pada teman untuk bertanya kepada kita hal-hal
yang belum dia pahami. Semakin banyak ditanya maka kita dapat semakin
ingat dengan jawaban dan apabila kita juga tidak tahu jawaban yang
benar, maka kita dapat membahasnya bersama-sama dengan teman. Selain itu

6. Belajar Dengan Serius dan Tekun
Ketika
belajar di kelas dengarkan dan catat apa yang guru jelaskan. Catat yang
penting karena bisa saja hal tersebut tidak ada di buku dan nanti akan
keluar saat ulangan atau ujian. Ketika waktu luang baca kembali catatan
yang telah dibuat tadi dan hapalkan sambil dimengerti. Jika kita sudah
merasa mantap dengan suatu pelajaran maka ujilah diri sendiri dengan
soal-soal. Setelah soal dikerjakan periksa jawaban dengan kunci
jawaban. Pelajari kembali soal-soal yang salah dijawab.

7. Hindari Belajar Berlebihan
Jika
waktu ujian atau ulangan sudah dekat biasanya kita akan panik jika
belum siap. Jalan pintas yang sering dilakukan oleh pelajar yang belum
siap adalah dengan belajar hingga larut malam / begadang atau membuat
contekan. Sebaiknya ketika akan ujian tetap tidur tepat waktu karena
jika bergadang semalaman akan membawa dampak yang buruk bagi kesehatan,
terutama bagi anak-anak.

8. Jujur Dalam Mengerjakan Ulangan Dan Ujian
Hindari
mencontek ketika sedang mengerjakan soal ulangan atau ujian. Mencontek
dapat membuat sifat kita curang dan pembohong. Kebohongan bagaimanapun
juga tidak dapat ditutup-tutupi terus-menerus dan cenderung untuk
melakukan kebohongan selanjutnya untuk menutupi kebohongan selanjutnya.
Anggaplah dengan nyontek pasti akan ketahuan guru dan memiliki masa
depan sebagai penjahat apabila kita melakukan kecurangan.

Semoga tips cara belajar yang benar ini dapat memberikan manfaat untuk kita semua, amin…

more on haMeedFinder Blog’s

Pendidikan Lingkungan Hidup bukan Pembebanan Baru bagi Siswa

Sunday, December 2nd, 2007

Manusia terdiri atas pikiran dan rasa dimana keduanya harus digunakan.
Rasa menjadi penting digerakkan terlebih dahulu, karena seringkali
dilupakan. Bagaimana memulai pendidikan lingkungan hidup? Pendidikan
Lingkungan Hidup harus dimulai dari HATI. Tanpa sikap mental yang
tepat, semua pengetahuan dan keterampilan yang diberikan hanya akan
menjadi sampah semata.

Untuk membangkitkan kesadaran manusia
terhadap lingkungan hidup di sekitarnya, proses yang paling penting dan
harus dilakukan adalah dengan menyentuh hati. Jika proses penyadaran
telah terjadi dan perubahan sikap dan pola pikir terhadap lingkungan
telah terjadi, maka dapat dilakukan peningkatan pengetahuan dan
pemahaman mengenai lingkungan hidup, serta peningkatan keterampilan
dalam mengelola lingkungan hidup

Pendidikan Lingkungan Hidup: dalam buku catatan
Pada
tahun 1986, pendidikan lingkungan hidup dan kependudukan dimasukkan ke
dalam pendidikan formal dengan dibentuknya mata pelajaran ?Pendidikan
kependudukan dan lingkungan hidup (PKLH)?. Depdikbud merasa perlu untuk
mulai mengintegrasikan PKLH ke dalam semua mata pelajaran

Pada
jenjang pendidikan dasar dan menegah (menengah umum dan kejuruan),
penyampaian mata ajar tentang masalah kependudukan dan lingkungan hidup
secara integratif dituangkan dalam sistem kurikulum tahun 1984 dengan
memasukkan masalah-masalah kependudukan dan lingkungan hidup ke dalam
hampir semua mata pelajaran. Sejak tahun 1989/1990 hingga saat ini
berbagai pelatihan tentang lingkungan hidup telah diperkenalkan oleh
Departemen Pendidikan Nasional bagi guru-guru SD, SMP dan SMA termasuk
Sekolah Kejuruan.
Di tahun 1996 terbentuk Jaringan Pendidikan
Lingkungan (JPL) antara LSM-LSM yang berminat dan menaruh perhatian
terhadap pendidikan lingkungan. Hingga tahun 2004 tercatat 192 anggota
JPL yang bergerak dalam pengembangan dan pelaksanaan pendidikan
lingkungan.

Selain itu, terbit Memorandum Bersama antara
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dengan Kantor Menteri Negara
Lingkungan Hidup No. 0142/U/1996 dan No Kep: 89/MENLH/5/1996 tentang
Pembinaan dan Pengembangan Pendidikan Lingkungan Hidup, tanggal 21 Mei
1996. Sejalan dengan itu, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan
Menengah (Dikdasmen) Depdikbud juga terus mendorong pengembangan dan
pemantapan pelaksanaan pendidikan lingkungan hidup di sekolah-sekolah
antara lain melalui penataran guru, penggalakkan bulan bakti
lingkungan, penyiapan Buku Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Kependudukan
dan Lingkungan Hidup (PKLH) untuk Guru SD, SLTP, SMU dan SMK, program
sekolah asri, dan lain-lain. Sementara itu, LSM maupun perguruan tinggi
dalam mengembangkan pendidikan lingkungan hidup melalui kegiatan
seminar, sararasehan, lokakarya, penataran guru, pengembangan sarana
pendidikan seperti penyusunan modul-modul integrasi, buku-buku bacaan
dan lain-lain.

Pada tanggal 5 Juli 2005, Menteri Lingkungan
Hidup dan Menteri Pendidikan Nasional mengeluarkan SK bersama nomor:
Kep No 07/MenLH/06/2005 No 05/VI/KB/2005 untuk pembinaan dan
pengembangan pendidikan lingkungan hidup. Di dalam keputusan bersama
ini, sangat ditekankan bahwa pendidikan lingkungan hidup dilakukan
secara integrasi dengan mata ajaran yang telah ada.

Pendidikan Lingkungan Hidup: bahan dasar yang dilupakan
Salah
satu puncak perkembangan pendidikan lingkungan adalah dirumuskannya
tujuan pendidikan lingkungan hidup menurut UNCED adalah sebagai berikut:

Pendidikan
lingkungan Hidup (environmental education - EE) adalah suatu proses
untuk membangun populasi manusia di dunia yang sadar dan peduli
terhadap lingkungan total (keseluruhan) dan segala masalah yang
berkaitan dengannya, dan masyarakat yang memiliki pengetahuan,
ketrampilan, sikap dan tingkah laku, motivasi serta komitmen untuk
bekerja sama , baik secara individu maupun secara kolektif , untuk
dapat memecahkan berbagai masalah lingkungan saat ini, dan mencegah
timbulnya masalah baru [UN - Tbilisi, Georgia - USSR (1977) dalam
Unesco, (1978)]

PLH memasukkan aspek afektif yaitu tingkah laku,
nilai dan komitmen yang diperlukan untuk membangun masyarakat yang
berkelanjutan (sustainable). Pencapaian tujuan afektif ini biasanya
sukar dilakukan. Oleh karena itu, dalam pembelajaran guru perlu
memasukkan metode-metode yang memungkinkan berlangsungnya klarifikasi
dan internalisasi nilai-nilai. Dalam PLH perlu dimunculkan atau
dijelaskan bahwa dalam kehidupan nyata memang selalu terdapat perbedaan
nilai-nilai yang dianut oleh individu. Perbedaan nilai tersebut dapat
mempersulit untuk derive the fact, serta dapat menimbulkan
kontroversi/pertentangan pendapat. Oleh karena itu, PLH perlu
memberikan kesempatan kepada siswa untuk membangun ketrampilan yang
dapat meningkatkan ?kemampuan memecahkan masalah?.

Beberapa ketrampilan yang diperlukan untuk memecahkan masalah adalah sebagai berikut ini.

  • Berkomunikasi: mendengarkan, berbicara di depan umum, menulis secara persuasive, desain grafis;
  • Investigasi (investigation): merancang survey, studi pustaka, melakukan wawancara, menganalisa data;
  • Ketrampilan bekerja dalam kelompok (group process): kepemimpinan, pengambilan keputusan dan kerjasama.

Pendidikan lingkungan hidup haruslah:

  1. Mempertimbangkan
    lingkungan sebagai suatu totalitas — alami dan buatan, bersifat
    teknologi dan sosial (ekonomi, politik, kultural, historis, moral,
    estetika);
  2. Merupakan suatu proses yang berjalan secara terus
    menerus dan sepanjang hidup, dimulai pada jaman pra sekolah, dan
    berlanjut ke tahap pendidikan formal maupun non formal;
  3. Mempunyai
    pendekatan yang sifatnya interdisipliner, dengan menarik/mengambil isi
    atau ciri spesifik dari masing-masing disiplin ilmu sehingga
    memungkinkan suatu pendekatan yang holistik dan perspektif yang
    seimbang.
  4. Meneliti (examine) issue lingkungan yang utama dari
    sudut pandang lokal, nasional, regional dan internasional, sehingga
    siswa dapat menerima insight mengenai kondisi lingkungan di wilayah
    geografis yang lain;
  5. Memberi tekanan pada situasi lingkungan
    saat ini dan situasi lingkungan yang potensial, dengan memasukkan
    pertimbangan perspektif historisnya;
  6. Mempromosikan nilai dan
    pentingnya kerjasama lokal, nasional dan internasional untuk mencegah
    dan memecahkan masalah-masalah lingkungan;
  7. Secara eksplisit mempertimbangkan/memperhitungkan aspek lingkungan dalam rencana pembangunan dan pertumbuhan;
  8. Memampukan
    peserta didik untuk mempunyai peran dalam merencanakan pengalaman
    belajar mereka, dan memberi kesempatan pada mereka untuk membuat
    keputusan dan menerima konsekuensi dari keputusan tersebut;
  9. Menghubungkan
    (relate) kepekaan kepada lingkungan, pengetahuan, ketrampilan untuk
    memecahkan masalah dan klarifikasi nilai pada setiap tahap umur, tetapi
    bagi umur muda (tahun-tahun pertama) diberikan tekanan yang khusus
    terhadap kepekaan lingkungan terhadap lingkungan tempat mereka hidup;
  10. Membantu peserta didik untuk menemukan (discover), gejala-gejala dan penyebab dari masalah lingkungan;
  11. Memberi
    tekanan mengenai kompleksitas masalah lingkungan, sehingga diperlukan
    kemampuan untuk berfikir secara kritis dengan ketrampilan untuk
    memecahkan masalah.
  12. Memanfaatkan beraneka ragam situasi
    pembelajaran (learning environment) dan berbagai pendekatan dalam
    pembelajaran mengenai dan dari lingkungan dengan tekanan yang kuat pada
    kegiatan-kegiatan yang sifatnya praktis dan memberikan pengalaman
    secara langsung (first - hand experience).

Karena
langsung mengkaji masalah yang nyata, PLH dapat mempermudah pencapaian
ketrampilan tingkat tinggi (higher order skill) seperti :

  1. Berfikir kritis
  2. Berfikir kreatif
  3. Berfikir secara integratif
  4. Memecahkan masalah.

Persoalan
lingkungan hidup merupakan persoalan yang bersifat sistemik, kompleks,
serta memiliki cakupan yang luas. Oleh sebab itu, materi atau isu yang
diangkat dalam penyelenggaraan kegiatan pendidikan lingkungan hidup
juga sangat beragam. Sesuai dengan kesepakatan nasional tentang
Pembangunan Berkelanjutan yang ditetapkan dalam Indonesian Summit on
Sustainable Development (ISSD) di Yogyakarta pada tanggal 21 Januari
2004, telah ditetapkan 3 (tiga) pilar pembangunan berkelanjutan yaitu
ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Ketiga pilar tersebut merupakan
satu kesatuan yang bersifat saling ketergantungan dan saling
memperkuat. Adapun inti dari masing-masing pilar adalah :

  1. Pilar Ekonomi:
    menekankan pada perubahan sistem ekonomi agar semakin ramah terhadap
    lingkungan hidup sesuai dengan prinsip-prinsip pembangunan
    berkelanjutan. Isu atau materi yang berkaitan adalah: Pola konsumsi dan
    produksi, Teknologi bersih, Pendanaan/pembiayaan, Kemitraan usaha,
    Pertanian, Kehutanan, Perikanan, Pertambangan, Industri, dan Perdagangan
  2. Pilar Sosial: menekankan
    pada upaya-upaya pemberdayaan masyarakat dalam upaya pelestarian
    lingkungan hidup. Isu atau materi yang berkaitan adalah: Kemiskinan,
    Kesehatan, Pendidikan, Kearifan/budaya lokal, Masyarakat pedesaan,
    Masyarakat perkotaan, Masyarakat terasing/terpencil,
    Kepemerintahan/kelembagaan yang baik, dan Hukum dan pengawasan
  3. Pilar Lingkungan:
    menekankan pada pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan yang
    berkelanjutan. Isu atau materi yang berkaitan adalah: Pengelolaan
    sumberdaya air, Pengelolaan sumberdaya lahan, Pengelolaan sumberdaya
    udara, Pengelolaan sumberdaya laut dan pesisir, Energi dan sumberdaya
    mineral, Konservasi satwa/tumbuhan langka, Keanekaragaman hayati, dan
    Penataan ruang

Kesadaran subyektif dan kemampuan
obyektif adalah suatu fungsi dialektis yang ajeg (constant) dalam diri
manusia dalam hubungannya dengan kenyataan yang saling bertentangan
yang harus dipahaminya. Memandang kedua fungsi ini tanpa dialektika
semacam itu, bisa menjebak kita ke dalam kerancuan berfikir.
Obyektivitas pada pengertian si penindas bisa saja berarti
subyektivitas pada pengertian si tertindas, dan sebaliknya. Jadi
hubungan dialek tersebut tidak berarti persoalan mana yang lebih benar
atau yang lebih salah. Oleh karena itu, pendidikan harus melibatkan
tiga unsur sekaligus dalam hubungan dialektisnya yang ajeg, yakni:
Pengajar, Pelajar atau anak didik, dan Realitas dunia. Yang pertama dan
kedua adalah subyek yang sadar (cognitive), sementara yang ketiga
adalah obyek yang tersadari atau disadari (cognizable). Hubungan
dialektis semacam inilah yang tidak terdapat pada sistem pendidikan
mapan selama ini.

Dengan kata lain, langkah awal yang paling
menentukan dalam upaya pendidikan pembebasannya Freire yakni suatu
proses yang terus menerus, suatu ?commencement?, yang selalu ?mulai
dan mulai lagi?, maka proses penyadaran akan selalu ada dan merupakan
proses yang sebati (in erent) dalam keseluruhan proses pendidikan itu
sendiri. Maka, proses penyadaran merupakan proses inti
atau
hakikat dari proses pendidikan itu sendiri. Dunia kesadaran seseorang
memang tidak boleh berhenti, mandeg, ia senantiasa harus terus
berproses, berkembang dan meluas, dari satu tahap ke tahap berikutnya,
dari tingkat ?kesadaran naif? sampai ke tingkat ?kesadaran kritis?,
sampai akhirnya mencapai tingkat kesadaran tertinggi dan terdalam,
yakni ?kesadarannya kesadaran? (the consice of the consciousness).

Joseph
Cornell, seorang pendidik alam (nature educator) yang terkenal dengan
permainan di alam yang dikembangkannya sangat memahami psikologi ini.
Sekitar tahun 1979 ia mengembangkan konsep belajar beralur (flow
learning).
Berbagai kegiatan atau permainan disusun sedemikian rupa
untuk menyingkronkan proses belajar di dalam pikiran, rasa, dan gerak.
Ia merancang sedemikian rupa agar kondisi emosi anak dalam keadaan
sebaik-baiknya pada saat menerima hal-hal yang penting dalam belajar.

Aspek-aspek yang perlu diperhatikan adalah:

  • Aspek afektif: perasaan nyaman, senang, bersemangat, kagum, puas, dan bangga
  • Aspek kognitif: proses pemahanan, dan menjaga keseimbangan aspek-aspek yang lain
  • Aspek sosial: perasaan diterima dalam kelompok
  • Aspek sensorik dan monotorik: bergerak dan merasakan melalui indera, melibatkan peserta sebanyak mungkin
  • Aspek lingkungan: suasanan ruang atau lingkungan

Pendidikan Lingkungan Hidup: terjerumus di jurang pembebanan baru

Pendidikan
saat ini telah menjadi sebuah industri. Bukan lagi sebagai sebuah upaya
pembangkitan kesadaran kritis. Hal ini mengakibatkan terjadinya praktek
jual-beli gelar, jual-beli ijasah hingga jual-beli nilai. Belum lagi
diakibatkan kurangnya dukungan pemerintah terhadap kebutuhan tempat
belajar, telah menjadikan tumbuhnya bisnis-bisnis pendidikan yang mau
tidak mau semakin membuat rakyat yang tidak mampu semakin terpuruk.
Pendidikan hanyalah bagi mereka yang telah memiliki ekonomi yang kuat,
sedangkan bagi kalangan miskin, pendidikan hanyalah sebuah mimpi.

Dunia
pendidikan sebagai ruang bagi peningkatan kapasitas anak bangsa
haruslah dimulai dengan sebuah cara pandang bahwa pendidikan adalah
bagian untuk mengembangkan potensi, daya pikir dan daya nalar serta
pengembangan kreatifitas yang dimiliki. Sistem pendidikan yang
mengebiri ketiga hal tersebut hanyalah akan menciptakan keterpurukan
sumberdaya manusia yang dimiliki bangsa ini yang hanya akan menjadikan
Indonesia tetap terjajah dan tetap di bawah ketiak bangsa asing.

Pada
dua tahun terakhir, PLH di Kalimantan Timur sangatlah berjalan perlahan
ditengah hiruk pikuk penghabisan kekayaan alam Kaltim.
Inisiatif-inisiatif baru bermunculan. Kota Balikpapan memulai, dengan
dibantu oleh Program Kerjasama Internasional, lahirlah kurikulum
pendidikan kebersihan dan lingkungan yang menjadi salah satu muatan
lokal. Diikuti kemudian oleh Kabupaten Nunukan. Sementara saat ini
sedang dalam proses adalah Kota Samarinda, Kabupaten Malinau dan Kota
Tarakan. Kesemua wilayah ini terdorong ke arah ?jurang? hadirnya muatan
lokal beraroma pendidikan lingkungan hidup.

Tak ada yang salah
dengan muatan lokal. Namun sangat disayangkan dalam proses-proses yang
dilakukan sangat meninggalkan prinsip-prinsip dari Pendidikan
Lingkungan Hidup itu sendiri. Nuansa hasil yang berwujud (buku, modul,
kurikulum), sangat terasa dalam setiap aktivitas pembuatannya.
Perangkat-perangkat pendukung masih sangat jauh mengikutinya.

Pendidikan
Lingkungan Hidup hari ini, bisa jadi mengulang pada kejadian beberapa
tahun yang lalu, ketika PKLH mulai diluncurkan. Statis, monolitik,
membunuh kreatifitas. Prasyarat yang belum mencukupi yang kemudian
dipaksakan, berakhir pada frustasi berkelanjutan.

Sangat penting
dipahami, bahwa pola Cara Belajar Siswa Aktif, Kurikulum Berbasis
Kompetensi, dan berbagai teknologi pendidikan lainnya yang
dikembangkan, kesemuanya bermuara pada kapasitas seorang guru.
Kemampuan berekspresi dan berkreasi sangat dibutuhkan dalam
mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa. Bila tidak, lupakanlah.

Demikian
pula dengan PLH, sangat dibutuhkan kapasitas guru yang mampu
membangitkan kesadaran kritis. Bukan sekedar untuk memicu kreatifitas
siswa. Kesadaran kritis inilah yang akhirnya akan tereliminasi disaat
PLH diperangkap dalam kurikulum muatan lokal. Siswa akan kembali berada
dalam ruang statis, mengejar nilai semu, dan memperoleh pembebanan baru.

Pendidikan Lingkungan Hidup: duduk, diam, dan bercerminlah

Sejak
2001, disaat pertama kali kawan-kawan pegiat PLH di Kaltim berkumpul,
telah lahir berbagai gagasan dan agenda yang harus diselesaikan. Namun
karena bukan menjadi PRIORITAS, maka hal ini menjadi bagian yang
dilupakan.

Di tahun 2005 ini, geliat PLH masih bergerak-gerak
ditempat. Bagi yang memiliki dana, muatan lokal menjadi sebuah pilihan,
karena akan lebih mudah mengukur indikator keberhasilannya. Bagi yang
tidak memiliki dana, mencoba tertatih-tatih di ruang sempit untuk tetap
berjalan sesuai dengan cita-cita sebenarnya dari PLH, yaitu membangun
generasi yang memiliki KESADARAN KRITIS sampai akhirnya mencapai
tingkat kesadaran tertinggi dan terdalam, yakni ?KESADARANNYA
KESADARAN?.

Kepentingan untuk PERCEPATAN PENDIDIKAN LINGKUNGAN
HIDUP, haruslah dimaknai bukan untuk mengELIMINASI pondasi dasar PLH.
Tidak kokohnya pondasi akan mengakibatkan kehancuran sebuah bangunan,
semewah apapun ia. Kehausan akan target proyek, capaian indikator,
pekerjaan, hanya akan menjadikan PLH sebagai sebuah obyek mainan baru,
bukan lagi sebagai sebuah nilai yang sedang dibangun bagi generasi
kemudian negeri ini.

BERCERMINLAH untuk sekedar meREFLEKSIkan
diri. Ini yang penting dilakukan oleh pegiat PLH. Bukan untuk berlari
mengejar ketertinggalan. Tidak harus cepat mencapai garis akhir.
Berjalan perlahan dengan semangat kebersamaan akan lebih menghasilkan
nilai yang tertancap pada ruang yang terdalam di diri. APAKAH YANG
SEDANG KITA LAKUKAN HANYA AKAN MENJADI PEMBEBANAN BARU BAGI GENERASI
KEMUDIAN?

more on haMeedFinder Blog’s